Saham Apple Anjlok, Indeks Nasdaq Tertekan Selama Empat Hari
Indeks Nasdaq Composite kembali melemah pada penutupan perdagangan hari Kamis waktu setempat. Melansir CNBC, penurunan ini dipicu oleh aksi jual para pelaku pasar terhadap saham teknologi utama. Tekanan tersebut mengabaikan laporan keuangan kuartal ketiga yang kuat dari perusahaan semikonduktor Micron Technology.
Baca Juga
Bursa Saham AS Mendatar Setelah Saham Teknologi Melemah Kontraksi Saham Raksasa Teknologi Tekan Pergerakan Kontrak Berjangka S&P 500 Saham Apple Seret Nasdaq Melemah Saat Dow Jones Cetak Rekor BaruBursa teknologi Nasdaq merosot 0,46 persen untuk berakhir pada level 25.358,60. Penurunan ini menandai rekor kerugian empat hari beruntun pertama sejak Februari lalu. Sementara itu, indeks S&P 500 tergelincir tipis 0,01 persen menjadi 7.357,49 dalam perdagangan yang sama.
Berbeda nasib, indeks Dow Jones Industrial Average justru menguat sebesar 0,14 persen. Sektor kesehatan, keuangan, dan industri mendorong Dow Jones mencetak rekor intraday tertinggi baru. Saham Johnson & Johnson naik hampir 1 persen, sedangkan saham Caterpillar melonjak hingga 6 persen.
Penurunan indeks Nasdaq dipimpin oleh saham Apple yang anjlok sebesar 6 persen. Kejatuhan ini terjadi setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga produk MacBook dan iPad. Pihak Apple menyebutkan bahwa lonjakan harga komponen chip menjadi alasan utama kebijakan tersebut.
Langkah serupa juga diambil oleh Microsoft yang mencatat penurunan saham sebesar 3,5 persen. Merujuk laporan bursa, pelemahan terjadi setelah pengumuman kenaikan harga konsol Xbox mereka. Kekhawatiran pasar meningkat karena kenaikan harga chip berpotensi menekan margin keuntungan raksasa teknologi.
Di sisi lain, saham Micron Technology melonjak hampir 16 persen di pasar. Kenaikan drastis ini membantu menahan pelemahan pasar saham yang lebih dalam. Perusahaan chip tersebut melaporkan hasil pendapatan kuartal ketiga fiskal yang melampaui estimasi para analis.
Terkait indikator ekonomi, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti AS naik 3,4 persen. Data inflasi pilihan Federal Reserve untuk bulan Mei ini sesuai dengan ekspektasi pasar. Para investor merasa lega karena angka tersebut tidak melonjak di tengah konflik Timur Tengah.